![]() ![]() |
Vol. 6 No. 1 (2026): Juli 2026
Articles
-
Pemotivasian Kapusin Muda untuk Studi Filsafat dan Teologi Melalui Pembinaan Edukatif-Reflektif
Laurentius Tinambunan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas Medan IndonesiaStudi filsafat dan teologi merupakan bagian penting dari formasi calon imam karena membentuk kemampuan berpikir kritis, kedalaman iman, disiplin intelektual, dan kesiapan pastoral. Dalam proses formasi, sebagian Kapusin muda menghadapi ketakutan terhadap bacaan ilmiah, rendahnya daya juang, kesulitan mengatur waktu, dan konsep diri akademik yang lemah. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memotivasi para post-novis Kapusin agar memahami studi sebagai bagian dari panggilan dan pelayanan. Kegiatan dilaksanakan pada 29 Maret 2025 di Biara Kapusin Santo Feliks, Mela, Tapanuli Tengah, dengan Dr. Laurentius Tinambunan sebagai narasumber dan diikuti 15 peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan edukatif, diskusi reflektif, sharing pengalaman, pengenalan strategi membaca teks ilmiah, penyusunan jadwal belajar, dan komitmen personal. Hasil deskriptif menunjukkan perubahan persepsi peserta dari studi sebagai beban menuju studi sebagai sarana pembentukan diri dan pelayanan. Peserta mampu mengidentifikasi hambatan belajar, memahami strategi membaca bertahap, serta merumuskan langkah penguatan disiplin akademik dan spiritual. Surat tugas, daftar hadir, berita acara, dan sertifikat memperkuat validitas pelaksanaan. Program ini menunjukkan bahwa motivasi belajar calon imam menjadi lebih kuat ketika studi diintegrasikan dengan identitas panggilan, pendampingan, kebiasaan reflektif, dan tujuan pastoral
Pages: 1-7Views: 32 Downloads: 3Pendampingan Karakter Anak Menghadapi Tantangan Teknologi Bagi Siswa SMP Negeri 1 Barus
Mora Ujuan Malau SMP Negeri 1 Barus, Tapanuli Tengah Indonesia , Safriatno Sianturi SMP Negeri 1 Barus, Tapanuli Tengah Indonesia. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara peserta didik belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, dan mengembangkan diri. Pada jenjang sekolah menengah pertama, peluang tersebut berjalan bersamaan dengan tantangan berupa penggunaan perangkat yang tidak terarah, paparan informasi yang keliru atau tidak sesuai usia, tekanan sosial di ruang digital, serta kesulitan mengelola waktu dan perilaku. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan mendampingi peserta didik SMP Negeri 1 Barus agar mampu menggunakan teknologi secara kritis, etis, aman, dan bertanggung jawab. Kegiatan dilaksanakan melalui pemaparan tematik, diskusi interaktif, refleksi personal, studi kasus, diskusi kelompok, dan penyusunan komitmen personal. Peserta kegiatan siswa/i SMP Negeri 1 Barus . Materi mencakup karakter dan pengendalian diri, etika digital, pengelolaan waktu, literasi media dan informasi, keamanan serta tanggung jawab dalam komunikasi digital. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan dialogis dan reflektif memberi ruang kepada peserta untuk mengenali manfaat dan risiko teknologi, menilai kebiasaan penggunaan perangkat digital, dan merumuskan langkah perbaikan yang realistis. Pendampingan karakter perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah dan keluarga sehingga kecakapan digital tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi berkembang menjadi kebiasaan menggunakan teknologi yang selaras dengan tanggung jawab, penghargaan terhadap sesama, disiplin, dan pengembangan diri
Pages: 8-14Views: 9 Downloads: 4Penguatan Jati Diri dan Spiritualitas Imam Melalui Pembekalan Direktorium Pelayanan bagi Calon Imam Kapusin
Sihol Situmorang Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas Medan IndonesiaIdentitas imam merupakan kesatuan antara relasi dengan Kristus, kedewasaan manusiawi, spiritualitas, persaudaraan, dan kesiapan melayani umat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memperkuat jati diri calon imam Kapusin melalui pembekalan Direktorium untuk Pelayanan dan Hidup Para Imam. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk weekend pembinaan pada 31 Oktober-2 November 2025 di Paroki Santo Yosef Balige dengan Sihol Situmorang, Lic. S.Th. sebagai narasumber. Kegiatan diikuti oleh 11 calon imam Kapusin. Metode yang digunakan meliputi pemaparan tematik, refleksi Kitab Suci, sharing pengalaman, diskusi kasus, pemeriksaan motivasi panggilan, dan penyusunan komitmen pelayanan. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa peserta memperoleh kerangka yang lebih utuh untuk memahami imamat sebagai identitas hidup, bukan sekadar fungsi; menghubungkan doa dengan pelayanan; mengembangkan kedekatan dengan umat; serta menilai tantangan digital dan pastoral secara bijaksana. Surat tugas, daftar hadir, dan berita acara menguatkan validitas pelaksanaan. Program ini menegaskan bahwa pembinaan singkat yang reflektif dan kontekstual dapat mendukung formasi calon imam apabila ditindaklanjuti oleh pendampingan komunitas
Pages: 15-20Views: 15 Downloads: 6Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai Sumber Literasi Hukum bagi Kalangan Umum
Riswan Limbong STMIK Mulia Darma Rantauprapat Indonesia , Muhammad Iqbal Panjaitan STMIK Mulia Darma Rantauprapat IndonesiaPerkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah menghadirkan perubahan dalam cara masyarakat memperoleh, mengolah, dan memahami informasi, termasuk informasi yang berkaitan dengan hukum. Masyarakat umum semakin mudah menggunakan berbagai aplikasi berbasis AI untuk memperoleh penjelasan mengenai peraturan perundang-undangan, hak dan kewajiban warga negara, permasalahan hukum sederhana, serta prosedur administratif. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan karena informasi yang dihasilkan AI tidak selalu akurat, mutakhir, atau sesuai dengan konteks hukum yang berlaku. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan AI sebagai sumber awal literasi hukum secara kritis, bertanggung jawab, dan etis. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan edukatif, partisipatif, demonstratif, kontekstual, dan reflektif melalui tahapan pengenalan AI, pengenalan konsep literasi hukum, demonstrasi pencarian informasi hukum menggunakan AI, praktik penyusunan pertanyaan atau prompt, verifikasi informasi melalui sumber hukum resmi, diskusi kasus sederhana, refleksi, dan evaluasi. Materi kegiatan menekankan bahwa AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memahami istilah dan konsep hukum, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya sumber untuk menentukan kebenaran atau mengambil keputusan hukum. Hal ini penting karena penelitian menunjukkan bahwa model bahasa besar dapat menghasilkan informasi hukum yang keliru atau bahkan menciptakan rujukan hukum yang tidak ada. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi hukum digital masyarakat sekaligus membangun sikap kritis dalam menggunakan AI sehingga masyarakat mampu membedakan antara informasi hukum awal, sumber hukum resmi, dan nasihat hukum profesional
Pages: 21-30Views: 7 Downloads: 4Ekstrakurikuler Tortor Sawan sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Batak Toba dan Penguatan Kearifan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar
Risnawati Malau SD Santo Ignatius Medan Johor IndonesiaKeberadaan budaya lokal di tengah perkembangan globalisasi dan perubahan pola kehidupan generasi muda menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan kesenian tradisional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui lingkungan pendidikan adalah mengintegrasikan kesenian tradisional ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sehingga peserta didik tidak hanya mengenal budaya secara teoritis, tetapi juga mengalami proses pembelajaran budaya melalui praktik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkenalkan dan mengembangkan Tortor Sawan sebagai bagian dari budaya Batak Toba sekaligus menumbuhkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya pelestarian budaya dan kearifan lokal. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan edukatif, partisipatif, demonstratif, reflektif, dan kontekstual melalui tahapan pengenalan budaya, pengenalan gerak, demonstrasi, latihan terbimbing, praktik kelompok, refleksi, dan evaluasi. Peserta kegiatan adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler tari di SD Santo Ignatius Medan Johor. Kegiatan diarahkan tidak hanya pada penguasaan gerak tari, tetapi juga pada pengenalan makna budaya, kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, penghargaan terhadap warisan leluhur, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran tari tradisional melalui kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang pendidikan budaya yang kontekstual karena peserta didik belajar melalui pengalaman langsung. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi budaya siswa dan membangun keberlanjutan pelestarian budaya Batak Toba melalui lingkungan sekolah
Pages: 31-38Views: 10 Downloads: 5Template
Menu
flagcount
| Published by Yayasan Citra Cita Millenial © CAB| e-ISSN :2798-9305 | DOI : 10.54367 CAB (Citra Abdimas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. View CAB Stats |









